Konsep kehidupan setelah kematian telah menjadi bagian integral dari kepercayaan manusia sejak zaman kuno. Setiap budaya mengembangkan pandangan unik tentang apa yang terjadi setelah kematian fisik, sering kali tercermin dalam ritual, mitologi, dan praktik spiritual mereka. Artikel ini akan mengeksplorasi perbandingan menarik antara mumi Mesir yang terkenal dengan konsep Hungry Ghosts dari tradisi Asia, sambil menyentuh berbagai entitas supernatural lainnya seperti drakula, obake, dan roh-roh penasaran dari berbagai tradisi.
Dalam peradaban Mesir kuno, praktik mumifikasi bukan sekadar pengawetan tubuh, tetapi merupakan persiapan spiritual untuk perjalanan menuju alam baka. Orang Mesir percaya bahwa jiwa terdiri dari beberapa bagian, termasuk 'ka' (kekuatan vital) dan 'ba' (kepribadian), yang keduanya membutuhkan tubuh yang diawetkan sebagai tempat tinggal. Proses mumifikasi yang rumit, yang bisa memakan waktu hingga 70 hari, mencerminkan keyakinan bahwa kehidupan setelah kematian adalah kelanjutan dari kehidupan duniawi, di mana orang mati akan menghadapi pengadilan oleh Osiris sebelum memasuki Duat (dunia bawah).
Berbeda dengan Mesir, tradisi Asia Timur, khususnya dalam Buddhisme dan Taoisme, mengenal konsep Hungry Ghosts (Pretas dalam bahasa Sanskerta) sebagai makhluk yang menderita kelaparan dan kehausan abadi karena karma buruk mereka di kehidupan sebelumnya. Hungry Ghosts sering digambarkan dengan perut buncit namun tenggorokan sempit, melambangkan ketidakpuasan dan penderitaan mereka. Festival seperti Zhongyuan Jie (Festival Hantu) di Tiongkok dan Obon di Jepang didedikasikan untuk memberi persembahan kepada roh-roh ini, dengan harapan meredakan penderitaan mereka dan mencegah gangguan terhadap yang hidup.
Di Eropa Timur, legenda drakula (atau vampir) mewakili ketakutan akan mayat hidup yang kembali untuk mengisap darah orang hidup. Berbeda dengan mumi Mesir yang diawetkan untuk kehidupan setelah kematian yang damai, vampir sering kali digambarkan sebagai kutukan—jiwa yang tidak bisa beristirahat karena kematian yang tidak wajar atau praktik sihir. Kepercayaan ini memuncak di abad ke-18 di Balkan, di mana penggalian dan penusukan mayat yang diduga vampir menjadi praktik umum untuk melindungi masyarakat.
Dalam budaya Jepang, obake (atau bakemono) mengacu pada makhluk supernatural yang bisa berubah bentuk, sering kali berasal dari roh hewan atau benda yang mendapatkan kesadaran. Konsep ini berbeda dengan Hungry Ghosts karena obake tidak selalu terkait dengan kehidupan setelah kematian manusia, tetapi lebih pada animisme dan kepercayaan bahwa segala sesuatu memiliki roh. Namun, beberapa obake seperti yurei (hantu penasaran) memiliki kesamaan dengan Hungry Ghosts dalam hal penderitaan dan keterikatan mereka dengan dunia fisik.
Tradisi Tiongkok mengenal berbagai jenis gui (hantu), termasuk Nu Gui (hantu perempuan) yang sering dikaitkan dengan kematian tragis perempuan, seperti dalam kasus bunuh diri atau penganiayaan. Nu Gui mirip dengan kuntilanak dalam budaya Indonesia dan Malaysia, di mana roh perempuan yang meninggal saat hamil atau melahirkan dipercaya kembali sebagai entitas menakutkan. Ba Jiao Gui, atau hantu pisang, adalah contoh lain dari kepercayaan animisme Tiongkok, di mana roh diyakini menghuni pohon pisang dan bisa membawa nasib buruk.
Mogwai, sering disalahartikan sebagai makhluk lucu dari film Barat, sebenarnya berasal dari mitologi Tiongkok sebagai roh jahat yang bisa bereproduksi dengan cepat saat terkena air. Konsep ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dan menghindari gangguan terhadap kekuatan supernatural, tema yang juga terlihat dalam ritual sesajen untuk menenangkan roh-roh lapar.
Ritual sesajen memainkan peran penting dalam banyak budaya untuk berkomunikasi dengan alam baka. Di Mesir, persembahan makanan dan barang-barang di makam dimaksudkan untuk mendukung orang mati di akhirat. Di Asia, sesajen untuk Hungry Ghosts sering mencakup makanan, uang kertas, dan dupa, yang dipersembahkan selama festival khusus. Praktik ini tidak hanya menunjukkan penghormatan tetapi juga berfungsi sebagai perlindungan, karena diyakini roh yang tidak terpuaskan bisa membawa nasib buruk.
Sihir dan praktik okultisme sering kali terkait dengan kehidupan setelah kematian, baik sebagai cara untuk berkomunikasi dengan roh (seperti dalam spiritualisme) atau untuk melindungi dari entitas jahat. Dalam konteks Mesir, mantra dari Kitab Kematian digunakan untuk memandu jiwa melalui akhirat, sementara di Asia, jimat dan doa dipakai untuk mengusir roh jahat seperti Hungry Ghosts.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa meskipun budaya berbeda dalam cara mereka memvisualisasikan kehidupan setelah kematian, ada tema universal: keinginan untuk memahami apa yang terjadi setelah kematian, kebutuhan untuk menghormati orang mati, dan ketakutan akan gangguan dari alam baka. Mumi Mesir mewakili persiapan terencana untuk akhirat yang terstruktur, sementara Hungry Ghosts mencerminkan keyakinan akan karma dan penderitaan yang berlanjut setelah kematian.
Dalam dunia modern, minat terhadap topik ini tetap tinggi, tercermin dalam popularitas film, sastra, dan bahkan aktivitas rekreasi seperti Lanaya88 yang sering mengadopsi tema supernatural. Namun, penting untuk diingat bahwa di balik legenda dan hiburan, terdapat sistem kepercayaan yang dalam yang membentuk identitas budaya dan praktik spiritual masyarakat selama ribuan tahun.
Kesimpulannya, kehidupan setelah kematian adalah cermin dari nilai-nilai budaya, ketakutan, dan harapan manusia. Dari mumi Mesir yang diawetkan dengan hati-hati hingga Hungry Ghosts yang menderita kelaparan, setiap tradisi menawarkan wawasan unik tentang hubungan antara yang hidup dan yang mati. Dengan mempelajari perbandingan ini, kita tidak hanya memahami keragaman kepercayaan dunia tetapi juga menghargai upaya manusia untuk mencari makna di balik misteri terbesar kehidupan: kematian itu sendiri.